SEJARAH STASI SANTO BENEDIKTUS MARINDAL


SEJARAH

    Stasi St. Benediktus Marindal, yang kemudian di singkat menjadi SBM, yang gerejanya terletak di Jl. Garu IV No. 44 Simpang Marindal Medan, telah menggoreskan sebuah catatan sejarah yang cukup panjang, khususnya dalam hal pembangunan fisik gereja, lewat tinta yang sangat kental dan dominan dengan partisipasi umatnya.


Gereja Stasi St. Benediktus Marindal Medan

    Berdasarkan buku Perjalanan Lima Puluh Tahun Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan (R.L. Tinambunan, O.Carm, 2017), bukti paling otentik sejarah awal Stasi ini adalah Buku Baptis Paroki Katedral yang mencatat baptisan pertama di Marindal yang dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 1961, atas nama Verena Reni, anak dari keluarga F. Toy dan Teresia Sujatmi. Bukti otentik ini menjadi koreksi untuk semua catatan sebelumnya bahwa Stasi ini bermula pada tahun 1966.

    Sebelum tahun 1966, lokasi gereja stasi ini terletak di daerah Kebun Sayur, Pabrik Kapur (Jl. Tritura, sekarang). Saat itu sekelompok muda-mudi Katolik karyawan NV. Deli dan PT. Inatex bergabung dengan beberapa keluarga Katolik di Asrama Tentara Widuri (sekarang masuk Lingkungan St. Martinus), meminjam gudang kapur di Kebun Sayur sebagai tempat beribadah.

    Dengan bangunan yang sangat darurat, umat pertama yang rata-rata gabungan antara Suku Batak Toba dan Karo setia melaksanakan ibadat. Pastor L.C.J van de Biggelaar, OFM.Cap (Ompung Bornok Simbolon), menjadi gembala yang selalu mengunjungi dan melayani mereka. Waktu itu gereja ini masih berada dalam iurisdiksi Paroki Katedral Jalan Pemuda. Tahun 1966, atas inisiatif Ompung Bornok Simbolon dan didukung oleh para tokoh umat serta para prajurit beragama Katolik yang berdomisili di Asrama Tentara Widuri, terjadilah pembelian tanah berukuran 25 X 40 M di Jalan Garu IV. Di atas tempat inilah didirikan bangunan gereja berdinding papan, beratap rumbai dan berlantai tanah, dengan lokasi yang dikelilingi rawa dan persawahan.

    Tahun 1967, bersamaan dengan pendirian Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan, penggembalaan stasi ini ditetapkan berada dibawah iurisdiksi Paroki St. Paulus Pasar Merah Medan. Pada waktu inilah terjadi renovasi kecil bangunan gereja, dengan mengganti atap rumbia dengan atap seng. Sekaligus didalam kompleks gereja tersebut dibangun sebuah rumah sederhana untuk ‘penjaga gereja’. Menurut catatan, atas kesepakatan Pastor dan pengurus gereja, penjaga gereja adalah tokoh umat yang diangkat sebagai vorhangger stasi. Pada waktu itu, umat juga sudah secara mandiri mampu memberikan balas jasa kepada penjaga gereja.

    Tahun 1980, gedung gereja dibangun secara permanen. Gereja lama dibongkar dan diganti dengan bangunan permanen. Tahun 1990, terjadi renovasi pada sakristi, panti imam dan altar. Pada tahun 1991 terjadi Perayaan Pesta Perak Stasi St. Benediktus.

    Tahun 2000, dikala pertumbuhan dan perkembangan jumlah umat juga semakin berbanding terbalik dengan kapasitas gereja, maka atas prakarsa Pastor Petrus Suu, O.Carm., bangunan gereja lama dibongkar habis, dan dibangunlah sebuah gereja baru yang lebih luas dan megah seperti saat ini, dengan dukungan seluruh umat dan tali kasih dari para donatur.

    Seiring dengan berkembangnya berbagai karya pelayanan umat Allah dan bertolak dari kesadaran akan kebutuhan sebuah bangunan serbaguna yang dapat mendukung seluruh aktifitas organisasi dan pelayanan yang akan berujung pada kemuliaan Nama Tuhan, maka pada tahun 2007 dimulailah proses pembangunan aula. Pembangunan aula ini, merupakan sebuah jawaban akan kerinduan dan kebutuhan 334 keluarga yang terdiri dari 1495 jiwa umat yang tersebar pada 9 lingkungan di Stasi ini.

   Dari perjalanan dan rangkaian proses pembangunan fisik di Stasi St. Benediktus Marindal, meminjam bahasa seorang Pastor yang pernah berkarya di Paroki St. Paulus Pasar Merah, “Dapat terbaca sifat dasar umat Stasi ini, yang rata-rata berpenghasilan sederhana, tetapi memiliki karakter iman yang mau berkorban, lugu dan taat-setia dalam diam dan kesederhanaannya”.

    Hari Minggu 1 Mei 2011, menjadi salah satu hari terindah yang tercatat dalam sejarah gereja ini. Betapa tidak, gereja baru yang dibangun sejak tahun 2000 dan aula yang didirikan sejak tahun 2007 dengan peluh keringat pengorbanan panitia pembangunan, jerih payah umat beriman stasi ini, serta uluran kasih sesama saudara seiman lainnya, termasuk umat gereja Katolik St. Paulus Pasar Merah dan para donatur yang budiman, telah diberkati secara langsung oleh P. Harold Harianja, OFM.Cap (Vikjen KAM saat itu) atas nama Yang Mulia Bapak Uskup Agung Medan, Mgr. Dr. A.B. Sinaga, OFM.Cap.